Mac 07, 2009

Saya Malu Menjadi Muslim Yang Jahil


***

Abu Rayhan al-Biruni adalah seorang ilmuwan besar, ahli fizik, ahli astronomi, ahli sosiologi, sasterawan, sejarawan dan ahli matematik yang nilainya tidak pernah diketahui. Dia dipertimbangkan sebagai pengasas dari Unified Field Theory (teori segala sesuatu -pen) oleh peraih penghargaan Nobel Profesor Abdus Salam. Abu Rayhan al-Biruni hidup hampir seribu tahun yang lalu dan sezaman dengan Ibn Sina (Avicenna) dan Sultan Mahmoud Ghazni.


Pada saat menjelang akhir hayatnya, Biruni dikunjungi oleh tetangganya yang merupakan ahli fiqih. Abu Rayhan masih dalam keadaan sedar, dan tatkala melihat sang ahli fiqih, dia bertanya kepadanya tentang hukum waris dan beberapa hal yang berhubungan dengannya. Sang ahli fiqih terkesima melihat seseorang yang sakarat masih tertarik dengan persoalan-persoalan tersebut. Abu Rayhan berkata, “Aku ingin bertanya kepadamu: mana yang lebih baik, meninggal dengan ilmu atau meninggal tanpanya?” Sang ahli fiqih menjawab, “Tentu saja lebih baik mengetahui dan kemudian meninggal.” Abu Rayhan berkata, “Untuk itulah aku menanyakan pertanyaanku yang pertama.” Beberapa saat setelah sang ahli fiqih tiba di rumahnya, tangisan duka mengatakan kepadanya bahwa Abu Rayhan telah meninggal dunia.

(Murtaza Mutahhari: Khutbah Keagamaan)


——————————————————————————————————————————————————————-

Sebuah Ilustrasi pergerakan fasa bulan dari buku karya Abu Rayhan al-Biruni

[Sumber: Wikipedia]

——————————————————————————————————————————————————————-

Lalu setelah itu, hampir seribu tahun yang lalu, ketika umat muslim adalah pembawa obor pengetahuan pada zaman kegelapan. Mereka menciptakan peradaban Islam, didorong oleh penelitian dan penemuan ilmiah, yang membuat bagian dunia lainnya iri selama berabad-abad.

Dalam kata-kata Carli Fiorina, seorang CEO Hewlett Packard yang visionari dan berbakat tinggi,

“Adalah para arkitek yang mendesain bangunan-bangunan yang mampu melawan gravitasi. Adalah para ahli matematik yang menciptakan aljabar dan algoritma yang dengannya komputer dan enkripsi data dapat tercipta. Adalah para doktor yang memeriksa tubuh manusia, dan menemukan obat baru untuk penyakit. Adalah para ahli astronomi yang melihat ke langit, memberi nama bintang-bintang, dan membuka jalan bagi perjalanan dan eksplorasi antariksa. Adalah para sasterawan yang menciptakan ribuan kisah; kisah-kisah perjuangan, percintaan dan keajaiban. Ketika negeri lain takut akan gagasan-gagasan, peradaban ini berkembang pesat dengannya dan membuat mereka penuh energi. Ketika ilmu pengetahuan terancam dihapus akibat pensensoran oleh peradaban sebelumnya, peradaban ini menjaga ilmu pengetahuan tetap hidup, dan menyebarkannya kepada peradaban lain. Tatkala peradaban barat moden sedang berselisih tentang pengetahuan ini, peradaban yang sedang saya bicarakan ini adalah dunia Islam bermula pada tahun 800 hingga 1600, yang termasuk di dalamnya Dinasti Ottoman dan kota Baghdad, Damaskus dan Kairo, dan penguasa agung seperti Sulaiman yang Bijak. Walaupun kita sering kali tidak menyedari hutang budi kita kepada peradaban ini, sumbangsihnya merupakan bahagian dasar dari kebudayaan kita. Teknologi industri tidak akan pernah hadir tanpa kontribusi para ahli matematik Arab.”

Sebenarnya, sangatlah sulit untuk mencari bidang ilmu pengetahuan yang tidak berhutang budi kepada para perintis ini. Di bawah ini adalah daftar singkat, tanpa bermaksud menyatakannya sebagai yang terlengkap, para ilmuwan muslim dari abad 8 hingga abad 14.


701 (Meninggal) * Khalid Ibn Yazeed * Ilmuwan kimia
721-803 * 
Jabir Ibn Haiyan * Ilmuwan kimia (Seorang ilmuwan kimia muslim terkenal)
740 * 
Al-Asma’i * Ahli ilmu haiwan, ahli tumbuh-tumbuhan, ahli pertanian
780 * 
Al-Khwarizmi (Algorizm) * Matematik (Aljabar, Kalkulus), Astronomi

——————————————————————————————————————————————————————-

Kitab al-Hayawan. Sebuah kitab berisi ensklopedia berbagai jenis binatang karya ahli ilmu haiwan muslim al-Jahiz. Pada kitab ini al-Jahiz memaparkan berbagai macam teori, salah satunya mengenai interaksi antara haiwan dengan lingkungannya.

——————————————————————————————————————————————————————-
776-868 * Amr Ibn Bahr al-Jahiz * Ahli ilmu haiwan
787 * Al Balkhi, Ja’far Ibn Muhammas (Albumasar) * Astronomi
796 (Meninggal) * Al-Fazari, Ibrahim Ibn Habib * Astronomi

——————————————————————————————————————————————————————-

Gambar Al-Kindi pada sebuah setem terbitan negara Syria

[Sumber: Wikipedia]

——————————————————————————————————————————————————————-

800 * 
Ibn Ishaq Al-Kindi (Alkindus) * Kedoktoran, Falsafah, Fizik, Optik
815 * 
Al-Dinawari, Abu Hanifa Ahmed Ibn Dawud * Matematik, Sastera
816 * 
Al Balkhi * Ilmu Bumi (Geografi)
836 * Thabit Ibn Qurrah (Thebit) * Astronomi, Mekanik, Geometri, Anatomi
838-870 * 
Ali Ibn Rabban Al-Tabari * Kedoktoran, Matematik
852 * 
Al Battani Abu Abdillah * Matematik, Astronomi, Kejuruteraan
857 * Ibn Masawaih You’hanna * Kedoktoran
858-929 * 
Abu Abdullah Al Battani (Albategnius) * Astronomi, Matematik
860 * Al-Farghani, Abu al-Abbas (Al-Fraganus) * Astronomi, Kejuruteraan Awam
864-930 * 
Al-Razi (Rhazes) * Kedoktoran, Ilmu Kedoktoran Mata, Ilmu Kimia
973 (Meninggal) * Al-Kindi * Fizik, Optik, Ilmu Logam, Ilmu Kelautan, Falsafah
888 (Meninggal) * 
Abbas Ibn Firnas * Mekanik, Ilmu Planet, Fizikal Kristal 

——————————————————————————————————————————————————————-

Sebuah Observatorium yang dibangun oleh para ilmuwan muslim

——————————————————————————————————————————————————————-

900 (Meninggal) * Abu Hamed Al-Ustrulabi * Astronomi
903-986 * 
Al-Sufi (Azophi) * Astronomi
908 * Thabit Ibn Qurrah * Kedoktoran, Kejuruteraan
912 (Meninggal) * Al-Tamimi Muhammad Ibn Amyal (Attmimi) * Ilmu Kimia
923 (Meninggal) * Al-Nirizi, AlFadl Ibn Ahmed (Altibrizi) * Matematik, Astronomi
930 * Ibn Miskawayh, Ahmed Abu Ali * Kedoktoran, Ilmu Kimia
932 * Ahmed Al-Tabari * Kedoktoran
934 * Al-Istakhr II * Ilmu Bumi (Peta Bumi)
936-1013 * Abu Al-Qosim Al-Zahravi (Albucasis) * Ilmu Bedah, Kedoktoran
940-997 * 
Abu Wafa Muhammad Al-Buzjani * Matematik, Astronomi, Geometri
943 * 
Ibn Hawqal * Ilmu Bumi (Peta Dunia)
950 * Al Majrett’ti Abu al-Qosim * Astronomi, Ilmu Kimia, Matematik
958 (Meninggal) * 
Abul Hasan Ali al-Mas’udi * Ilmu Bumi, Sejarah
960 (Meninggal) * Ibn Wahshiyh, Abu Bakar * Ilmu Kimia, Ilmu Tumbuh-tumbuhan
965-1040 * 
Ibn Al-Haitham (Alhazen) * Fizik, Optik, Matematik

——————————————————————————————————————————————————————-

Abu Rayhan Al-Biruni, seorang ahli astronomi muslim sedang mengamati bintang di langit.

——————————————————————————————————————————————————————-

973-1048 * Abu Rayhan Al-Biruni * Astronomi, Matematik, Sejarah, Sastera
976 * Ibn Abil Ashath * Kedoktoran

——————————————————————————————————————————————————————-

Ibnu Sina (980-1037) Seorang ilmuwan muslim. Di barat dikenal sebagai Avicenna. Beliau juga dikenal sebagai seorang Ahli Falsafah, Ahli Matematik, Ahli Astronomi, Ahli Kimia, Penyair, Ahli Psikologi, Hafiz (Penghafal Al-Quran), Negarawan dan seorang Ulama.

[Sumber: Wikipedia]

——————————————————————————————————————————————————————-

980-1037 * 
Ibn Sina (Avicenna) * Kedoktoran, Falsafah, Matematik, Astronomi
983 * 
Ikhwan A-Safa (Assafa) * (Kelompok Ilmuwan Muslim)
1001 * Ibn Wardi * Ilmu Bumi (Peta Dunia)
1008 (Meninggal) * 
Ibn Yunus * Astronomi, Matematik.
1019 * Al-Hasib Alkarji * Matematik
1029-1087 * Al-Zarqali (Arzachel) * Matematik, Astronomi, Penyair
1044 * 
Omar Al-Khayyam * Matematik, Astronomi, Penyair
1060 (Meninggal) * Ali Ibn Ridwan Abu Hassan Ali * Kedoktoran
1077 * Ibn Abi Sadia Abul Qasim * Kedoktoran
1090-1161 - 
Ibn Zuhr (Avenzoar) * Ilmu Bedah, Kedoktoran
1095 - 
Ibn Bajah, Mohammed Ibn Yahya (Avenpace) * Astronomi, Kedoktoran
1097 - Ibn Al-Baitar Diauddin (Bitar) * Ilmu Tumbuh-Tumbuhan, Kedoktoran, Ilmu

——————————————————————————————————————————————————————-

Peta Dunia digambar oleh Al-Idrisi pada tahun 1154

[Sumber: Wikipedia]

——————————————————————————————————————————————————————-

1099 - 
Al-Idrisi (Dreses) * Ilmu Bumi (Geografi), Ahli Ilmu Haiwan, Peta Dunia (Peta Pertama)
1110-1185 - 
Ibn Tufayl, Abubacer Al-Qaysi * Falsafah, Kedoktoran
1120 (Meninggal) - Al-Tuhra-ee, Al-Husain Ibn Ali *Ahli Kimia, Penyair
1128 - 
Ibn Rushd (Averroe’s) * Falsafah, Kedoktoran, Astronomi
1135 - Ibn Maymun, Musa (Maimonides) * Kedoktoran, Falsafah

——————————————————————————————————————————————————————-

Lakaran automatisasi menggunakan air karya Al-Razaz Al-Jazari

[Sumber: Wikipedia]

——————————————————————————————————————————————————————-

1136 - 1206 - Al-Razaz Al-Jazari * Astronomi, Seni, Kejuruteraan Mekanikal
1140 - Al-Badee Al-Ustralabi * Astronomi, Matematik
1155 (Meningal) - Abdel-al Rahman al Khazin *Astronomi
1162 - Al Baghdadi, Abdel-Lateef Muwaffaq * Kedoktoran, Ahli Bumi (Geografi)
1165 - Ibn A-Rumiyyah Abul’Abbas (Annabati) * Ahli Tumbuh-tumbuhan
1173 - Rasheed Al-Deen Al-Suri * Ahli Tumbuh-tumbuhan
1180 - Al-Samawal * Matematik
1184 - Al-Tifashi, Shihabud-Deen (Attifashi) *Ahli Logam, Ahli Batu-batuan
1201-1274 - 
Nasir Al-Din Al-Tusi * Astronomi, Non-Euclidean Geometri

——————————————————————————————————————————————————————-

Sebuah lakaran anatomi tubuh manusia yang digambar oleh ilmuwan muslim.

——————————————————————————————————————————————————————-

1203 - Ibn Abi-Usaibi’ah, Muwaffaq Al-Din * Kedoktoran
1204 (Meninggal) - Al-Bitruji (Alpetragius) * Astronomi
1213-1288 - Ibn Al-Nafis Damishqui * Astronomi
1236 - 
Kutb Aldeen Al-Shirazi * Astronomi, Ilmu Bumi (Geografi)
1248 (Meninggal) * Ibn Al-Baitar * Farmasi, Ahli Tumbuh-tumbuhan (Botani)
1258 - Ibn Al-Banna (Al Murrakishi), Azdi * Kedoktoran, Matematik
1262 - Abu al-Fath Abd al-Rahman al-Khazini * Fizik, Astronomi
1273-1331 - Al-Fida (Abdulfeda) * Astronomi, Ilmu Bumi (Geografi)
1360 - Ibn Al-Shater Al Dimashqi * Astronomi, Matematik
1320 (Meninggal) - Al Farisi Kamalud-deen Abul-Hassan *Astronomi, Fizik
1341 (Meninggal) - Al Jildaki, Muhammad Ibn Aidamer * Ilmu Kimia
1351 - Ibn Al-Majdi, Abu Abbas Ibn Tanbugha * Matematik, Astronomi
1359 - Ibn Al-Magdi, Shihab Udden Ibn Tanbugha * Matematik, Astronomi

——————————————————————————————————————————————————————-

Sebuah lakaran ahli astronomi muslim Ibn al-Shatir (1304-1375) tentang pergerakan planet Utarid.

[Sumber: Wikipedia]

——————————————————————————————————————————————————————-

1375 (Meninggal) - 
Ibn al-Shatir * Astronomi
1393-1449 - 
Ulugh Beg * Astronomi
1424 - 
Ghiyath al-Din al Kashani * Analisis Numerikal, Perhitungan

Dengan deretan sarjana muslim seperti itu, tidaklah sulit untuk menyetujui apa yang dikatakan George Sarton, "Tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para muslim." Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang muslim. Ahli Matematik terbaik Abul Kamil dan Ibn Sina adalah muslim. Ahli geografi (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik Al-Masudi adalah seorang muslim dan Al-Tabari ahli sejarah terbaik juga seorang muslim.

Sejarah sebelum Islam dipenuhi dengan perkiraan-perkiraan, desas-desus dan mitos-mitos. Adalah seorang ahli sejarah muslim yang pertama kali memperkenalkan metode sanad dan matan yang melacak keaslian dan keutuhan sebuah informasi langsung dari saksi mata. Menurut seorang ahli sejarah Bucla “Metode ini belumlah dipraktekkan oleh Eropa sebelum tahun 1597.” Metode lainnya: adalah penelitian sejarah bersumber dari ahli sejarah terkemuka Ibn Khaldun. Pengarang dari Kashfuz Zunun memberikan daftar 1300 buku-buku sejarah yang ditulis dalam bahasa Arab pada masa beberapa abad sejak munculnya Islam.

Sekarang lihatlah dunia kaum muslim. Bilakah anda terakhir kali mendengar seorang muslim memenangkan hadiah Nobel dalam bidang ilmu pengetahuan dan kedoktoran? Bagaimana dengan penerbitan ilmiah? Sayangnya, anda tidak akan menemukan banyak nama kaum Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan makalah-makalah ilmiah. Apa yang kurang? Alasan apa yang kita miliki?

Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menanggapi pembangunan di wilayah Arab mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara menerjemahkan 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan, hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang diterjemahkan oleh sebuah negara kecil Yunani dalam setahunnya! (Sepanyol menerjemahkan rata-rata 100,000 buku setiap tahunnya). Mengapa ada alergi atau keengganan untuk menerjemahkan ilmu yang asal-muasalnya berasal dari nenek moyang kita sendiri untuk mendapatkan kembali warisan terdahulu dengan menganalisa, mengumpulkan, menyempurnakan dan menyalurkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia?

Mengapa tingkat pendidikan pada kaum Muslim rendah sementara ayat pertama pada Al-Quran adalah ‘Iqra (berarti: Bacalah)? Apakah mereka lupa akan hadis Nabi mereka: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”?


Bagaimana dengan hadis Nabi yang berbunyi:

“Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya berarti telah mengambil bagian yang banyak.”
[HR Abu Dawud dan Tirmidzi]


Begitu giatnya kaum Muslim pada saat ini mencari kekayaan hingga mereka sendiri tidak tahu bagaimana untuk membelanjakannya. Sikap seperti itu begitu berisiko dan memalukan.


Keutamaan Ilmu dibandingkan harta

Diriwayatkan suatu hari sepuluh orang terpelajar mendatangi Imam Ali ra. Mereka ingin mengetahui mengapa ilmu lebih baik daripada harta dan mereka meminta agar masing-masing dari mereka diberikan jawaban yang berbeda. Imam Ali ra menjawab sebagaimana berikut:

[1] Ilmu adalah warisan Nabi, sebaliknya harta adalah warisan Firaun. Sebagaimana Nabi lebih unggul daripada Firaun, maka ilmu lebih baik daripada harta.

[2] Engkau harus menjaga hartamu, tetapi Ilmu akan menjagamu. Maka dari itu, Ilmu lebih baik daripada harta.

[3] Ketika Ilmu dibagikan ia semakin bertambah. Ketika harta dibagikan ia berkurang. Seperti itulah bahwa ilmu lebih baik daripada harta.

[4] Manusia yang mempunyai banyak harta memiliki banyak musuh, sedangkan manusia berilmu memiliki banyak teman. Untuk itu, ilmu lebih baik daripada harta.

[5] Ilmu menjadikan seseorang bermurah hati karena pandangannya yang luas, sedangkan manusia kaya dikarenakan kecintaannya kepada harta menjadikannya sengsara. Seperti itulah bahwa ilmu lebih baik daripada harta.

[6] Ilmu tidak dapat dicuri, tetapi harta terus-menerus terekspos oleh bahaya akan pencurian. Maka, ilmu lebih baik daripada harta.

[7] Seiring berjalannya waktu, kedalaman dan keluasan ilmu bertambah. Sebaliknya, timbunan dirham menjadi berkarat. Untuk itu, ilmu lebih baik daripada harta.

[8] Engkau dapat menyimpan catatan kekayaanmu karena ia terbatas, tetapi engkau tidak dapat menyimpan catatan ilmumu karena ia tidak terbatas. Untuk itulah mengapa ilmu lebih baik daripada harta.

[9] Ilmu mencerahkan fikiran, sementara harta cenderung menjadikannya gelap. Maka dari itu, ilmu lebih baik daripada harta.

[10] Ilmu lebih baik daripada harta, karena ilmu menyebabkan Nabi berkata kepada Tuhan “Kami menyembah-Nya sebagaimana kami adalah hamba-hamba-Nya”, sementara harta membahayakan, menyebabkan Firaun dan Namrud bersikap congkak dengan menyatakan diri mereka sebagai Tuhan.


Betapa arifnya! Tapi saat ini masyarakat kita tidak bersemangat untuk mencari ilmu. Mengapa? Apakah mereka mengetahui apa yang dikatakan Imam Ibn Hazm (RA) - seorang ulama besar dari Andalusia Sepanyol, ahli fiqh dan penyair - yang mengatakan:


"Jika ilmu pengetahuan membuat orang bodoh hormat dan segan kepadamu, dan kaum terpelajar menghargai dan mencintaimu, alasan itu sudah cukup untuk menyemangatimu untuk mencari ilmu.. Jika kebodohan hanya dapat membuat orang bodoh iri atas orang berilmu dan senang melihat orang yang bodoh seperti mereka, alasan ini cukup untuk mengharuskan kita mencarinya (ilmu).. Jika ilmu pengetahuan dan sikap ketaatan diri dalam meraihnya tidak memiliki tujuan apapun selain membebaskan manusia dari lelahnya kegelisahan dan kecemasan yang membuat fikiran menderita, alasan-alasan itu sangatlah cukup untuk membawa kita untuk mencari ilmu."

Saya hanya berharap perkataannya akan membangunkan masyarakat kita untuk mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.


Solusi untuk keadaan sulit yang kita hadapi saat ini:

Ketika banyak solusi yang dapat saya tunjukkan untuk membawa kita dari kesulitan ini, saya memutuskan untuk membahas tiga hal utama di bawah, yang dua di antaranya berhubungan dengan tanggungjawab sosial dan masyarakat.

1. Mencari Ilmu Pengetahuan:

Alasan utama di balik kegemilangan kaum Muslim awal terletak pada pencarian mereka akan ilmu pengetahuan walaupun ilmu itu harus diperoleh ditempat yang sulit dan tersembunyi. Sebagai anak-anak Islam sejati, mereka mengerti akan hadis Nabi:

Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah (fisabilillah) hingga ia kembali (ke rumahnya)” (HR.Tirmidzi)

Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

Kaum Muslim seharusnya merenungkan apa yang dikatakan Mu’adh ibn Jabal (RA): “Meraih ilmu pengetahuan demi redha Allah, karena pengetahuan melahirkan kesalehan, mengagungkan Ilahi dan takut akan dosa. Mencari ilmu demi redha Allah adalah ibadah, belajar adalah sikap mengingat kebesaran Allah (Zikir), mencarinya adalah perjuangan yang ganjarannya adalah pahala (Jihad), mengajarkannya kepada seseorang yang menganggapnya berharga adalah sedekah, dan mengamalkannya pada rumah seseorang memperkuat tali silahturahmi diantara keluarga. Ilmu adalah sahabat penyejuk ketika dalam kesendirian. Ilmu adalah sahabat terbaik bagi para pengelana. Ilmu adalah sahabat terdekatmu yang menyampaikan rahasianya kepadamu. Ilmu adalah pedangmu yang paling ampuh untuk lawanmu, dan terakhir, ilmu adalah pakaian yang akan menaikkan derajatmu dalam jamaah persaudaraanmu.” [Hilyat'ul Awliya Wa Tabaqat'ul Asfiya]


Dengan hal yang sama, Sharafuddin Maneri (RA) berkata,

“Ilmu pengetahuan adalah puncak segala kebahagiaan, sebagaimana kebodohan adalah titik awal dari segala keburukan. Keselamatan datang dari ilmu, kehancuran datang dari kebodohan.” [Maktubat-i Sadi]


2. Kualiti kepemimpinan dan dukungan pemerintah.

Pada zaman awal keislaman, penguasa kaum Muslim tidak hanya menjadi pendukung pendidikan, mereka sendiri merupakan para sarjana yang hebat. Mereka juga dikelilingi oleh kaum terpelajar seperti para ahli filosofi, ahli fiqh, ahli hadis, ulama, penganalisis, penyair, ahli matematik, ilmuwan, jurutera, arkitek dan doktor. Para kaum terpelajar memiliki nilai yang tinggi di pemerintahan. Mereka membangun perpustakaan, universiti, pusat penelitian, dan observatorium. Mereka mengundang kaum terpelajar dari seluruh bangsa dan agama untuk datang ke wilayah mereka. Sehingga kota yang mereka bangun menjadi metropolitan ilmu pengetahuan di segala bidang. Sebagaimana universiti saat ini seperti MITStandfordYale dan Princeton, universiti-universiti masyarakat Muslim dahulu adalah universiti terunggul.

Dan apa yang kita miliki saat ini? Kebanyakan pemimpin di negeri kaum Muslim adalah setengah terpelajar, yang dikelilingi (dengan tingkat pengecualian yang rendah) oleh kroni-kroni mereka yang kualifikasi terpenting bagi mereka bukanlah kompetensi atau pendidikan tetapi hubungan dengan penguasa atau keluarganya.

Penguasa-penguasa kita (dengan tingkat pengecualian yang rendah) korup dan mementingkan diri sendiri. Tidak hairan, mereka dikelilingi oleh orang-orang korup yang diberikan posisi untuk menggemukkan simpanan kerabat-kerabat mereka. Lebih lanjut, ketika jumlah istana dan rumah-rumah megah terus meningkat, tidak satupun universiti yang dibangun oleh penguasa-penguasa ini. Hanya beberapa peratus dari belanjawan negara yang dibelanjakan untuk pendidikan dan penelitian. Jadi, adalah wajar ketika menyaksikan begitu suramnya catatan penemuan ilmiah dari negara-negara Muslim. Tidak ada satupun universiti dari negeri kaum Muslim yang berada pada peringkat 100 universiti terbaik di dunia. Mereka yang memiliki pemikiran cemerlang pelan-pelan terkurang jumlahnya dari negeri mereka kerana memilih untuk menetap (dengan tingkat pengecualian yang rendah) di negara-negara barat yang lebih menjanjikan, di mana mereka dapat mengaplikasikan kepintaran dan keahlian mereka.

Komuniti masyarakat kita begitu terikat dalam sebuah sistem hubungan kerabat di mana projek-projek pemerintahan hampir semuanya disokong oleh pertimbangan hubungan bisnes dan personal daripada apa yang baik bagi masyarakat kita. Sehingga muncullah kaum-kaum jutawan setengah terpelajar yang sama sekali tidak menghargai pendidikan atau perkhidmatan kepada masyarakat.


Mengapa sikap seperti ini, ketika Islam mengajarkan bahwa setiap orang yang mencari kebajikan selayaknya bersama mereka yang pemurah dan bersahabat dengan mereka yang berbudi pekerti luhur - mereka yang terpelajar, simpatik, dermawan, jujur, ramah, sabar, terpercaya, murah hati, tahu diri dan sahabat sejati?


Jadi jika negara-negara Muslim ingin mengambil kembali khazanah pengetahuan mereka yang hilang, mereka harus meneliti kembali jejak mereka terdahulu yang membuat mereka sukses dan menyingkirkan cara-cara yang dipakai pada saat ini yang mengantarkan kepada kegelapan dan kehancuran.


Izinkan kembali saya memaparkan perkataan Carli Fiorina, yang mengatakan,

“Pemimpin-pemimpin seperti Sulaiman (al-Qanuni) berkontribusi terhadap gagasan-gagasan toleransi dan kepemimpinan masyarakat kita. Dan mungkin kita dapat belajar dari contoh yang ia terapkan: Sebuah kepemimpinan berdasarkan keahlian dan kemampuan, bukan berdasarkan keturunan. Sebuah kepemimpinan yang memanfaatkan kemampuan penuh dari keberagaman populasi masyarakatnya yang termasuk di dalamnya kaum Kristiani, kaum Muslim, dan kaum Yahudi. Kepemimpinan gemilang seperti inilah yang menumbuhkan kebudayaan, kestabilan, keberagaman dan teguhnya harapan yang membawa mereka menuju 800 tahun era penemuan dan kemakmuran.”

Apakah pemimpin-pemimpin kita akan memperhatikan dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan mereka?


3. Melangkah melampaui apa yang diharapkan:

Sebagaimana saya kemukakan di atas, kaum Muslim sangat jauh tertinggal pada setiap bidang pengetahuan. Adalah tidak mungkin menutupi jurang yang semakin lebar ini hanya dengan mengikuti arus atau hanya melakukan apa-apa seadanya. Strategi kita seharusnya adalah berusaha melangkah melampaui kemampuan rata-rata kita, melakukan hal-hal yang lebih besar. Untuk menjelaskan poin ini, izinkan saya menutupnya dengan sebuah kisah pada zaman Rasulullah SAW.

Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘Ubaidillah r.a.:

Seorang lelaki dengan rambut terjurai dari Najd menemui Rasulullah Saw. dan kami mendengar suaranya yang keras meskipun tidak dapat menangkap apa maksudnya, kemudian lelaki itu mendekat (hingga akhirnya kami tahu bahwa ia datang untuk) bertanya tentang Islam. Rasulullah Saw. bersabda, “Kau harus mengerjakan solat lima kali dalam sehari semalam.” Laki-laki itu bertanya, “Adakah solat lain yang harus kukerjakan?” Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak ada. Tetapi jika mahu, kau dapat mengerjakan solat nawafil.” Lebih jauh Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Kau harus mengerjakan puasa selama bulan Ramadhan.” Orang itu bertanya, “Adakah puasa lainnya yang harus kukerjakan?” Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak ada. Tetapi jika mahu, kau dapat mengerjakan puasa sunnah.” Kemudian Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Kau harus membayar zakat.” Orang itu bertanya, “Apakah masih ada yang lainnya yang harus kubayar selain zakat?” Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak ada. Kecuali jika kau ingin mendermakan sebagian milikmu.” Kemudian laki-laki itu menghampiri seraya berkata, “Demi Allah! Aku tidak akan mengerjakan yang lain selain ini. Rasulullah Saw. bersabda, “Jika yang dia katakan benar, dia akan masuk surga.”

Di dalam hadis ini tersimpan formula untuk meremajakan semangat negara-negara kaum Muslim. Semoga kita dibimbing untuk mendapatkan kembali khazanah kita yang hilang!

***

Referensi:

Hamed Abdel-Reheem Ead, Professor of Chemistry at Faculty of Science
Universiti of Cairo Giza-Mesir dan Director of Science Heritage Center, http://www.frcu.eun.eg
Lihat juga buku: 100 Muslim Scientists by Abdur Rahman Sharif, Al-Khoui Pub., N.Y; Muslim Contribution to Science by Muhammad R. Mirza and Muhammad Iqbal Siddiqi, Chicago: Kazi Publications, 1986.

~ oleh Dimas pada 18 April, 2008.

Sumber artikel dari www.islamicity.com

Penerjemah artikel: Dimas Tandayu

Judul asal: Pentingnya Mencari Ilmu Pengetahuan 

Oleh Dr. Habib Siddiqui, Philadelphia, Amerika Syarikat.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan